Ah, wanita. Seringkali engkau dianggap kuat dan "sangar" saat kau mampu melakukan pekerjaan fisik yang berat, bahkan yang belum tentu dapat dilakuan para pria. Angkat galon? Oke. Bisa naik motor kopling? Jagoan! Bisa benerin lampu yang mati? Salut! Kerja keras bagai kuda? Sudah biasa! Perspektif tersebut membuatmu, hai wanita, lupa bahwa kekuatan sebenarnya bukan hanya terletak pada apa yang terlihat. Strength is not always the look. It's a feeling . Ya, kemampuanmu untuk tetap bertahan dan bersabar menghadapi masalah adalah letak kekuatanmu yang sebenarnya. Permasalahan dan pencobaan adalah cara yang dipilih oleh Tuhan dalam mendewasakanmu. Lewat mereka lah, engkau dibentuk menjadi semakin indah. Menjadi seri limited edition . Lewat mereka lah, engkau mengerti batas kekuatanmu....bahkan potensi pahlawan di dalam dirimu. Jangan lupakan juga kekuatanmu terletak pada kemampuanmu untuk tetap rendah hati dan memilih untuk tetap baik hati. Memaafkan orang y...
Postingan
Usia 30 : Awal Indah Sebuah Kehidupan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tertawa sendiri saat melihat quote ini. Benar bahwa usia 30 an bisa dibilang usia paling "rawan" terutama bagi tiap orang yang merasa belum memiliki banyak pencapaian di hidupnya. Namun menurut saya, sebenarnya usia 30 adalah awal dari keindahan hidup. Sedikit share, saya merasa sibuk mencari jati diri di usia 20 an. Keluar dari kota kelahiran ke ibu kota untuk bekerja. Dengan alasan mencari pengalaman dan ingin mendapat variasi hidup. Melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh anak daerah, belajar untuk berani tampil di depan umum. Mencoba menjalin relasi khusus dengan suku yang berbeda--meskipun pada akhirnya gagal,hehe..dan masih banyak lagi. Ya, pencarian jati diri saya dimulai di usia 20 an. Mencoba menampilkan diri sebagai pribadi yang baru dan "kekinian", ada rasa angkuh terhadap pencapaian saya, idealisme yang sulit dibengkokkan dan banyak pemberontakan yang saya lakukan di usia ini. Menjelang usia 30, semuanya berubah. Apa yang saya...
Karena Hidup Bukanlah Sebuah Kompetisi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
" When you compare yourself to other people, you will either feel arrogant or defeated. Either way, you lose. Don't get stuck in the comparison trap." ( Dave Willis) Dunia mengajarkan pada kita untuk selalu menjadi yang terbaik. Kalau bisa yang terdepan. Sebenarnya hal ini tidak salah. Namun hal ini menjadi tidak tepat, jika pada akhirnya kita menjadi lebih fokus pada pencapaian orang lain. Ya, kita merasa harus selalu membandingkan apa yang telah dipunyai orang lain, dan apa yang kita belum miliki. Kalau rekan kita membeli perhiasan baru, harusnya kita juga bisa dong. Kalau bisa yang lebih bagus. Kalau tetangga bisa membeli mobil baru, kenapa kita tidak bisa. Nyicil ga apa-apa deh. Yang penting gengsinya dapat. Kalau teman kita yang tampang pas-pas an saja bisa dapat pasangan, harusnya kita yang lebih kece juga bisa dong. Dan masih banyak lagi "kalau" yang lain. Ironis, bahwa kita mencari pengakuan dan penerimaan orang lain. Padahal sejatinya ...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Don’t be rush. Kata-kata ini sungguh-sungguh menjadi peringatan yang powerful bagi setiap orang yang sedang hidup dalam penantian. Penantian akan kehidupan yang lebih baik. Penantian akan pemulihan. Penantian akan janji-janji Allah dalam hidup kita. “Tapi sabar kan ada batasnya. Mau berapa lama lagi saya harus bersabar? Kurang panjangkah waktu yang saya habiskan untuk penantian saya?” Well, mungkin kalimat inilah yang sering diucapkan oleh kita saat dalam fase penantian. Kita berdoa supaya kita diberi kesabaran dalam menanti. Namun pada faktanya seringkali kita protes saat kita merasa “delivery” dari Tuhan kog ga nyampai-nyampai. Alih-alih bersabar, kita seringkali menjadi Tuhan atas hidup kita. Ya, kita mengambil alih kemudi dengan paksa. Kita langsung in action . Memaksa supaya Tuhan setuju dengan kehendak dan mau kita. Memaksa supaya Tuhan lekas mengabulkan keinginan kita….sehingga kita bebas melenggang sambil membawa bendera bertuliskan “yeayyy..it’s over!” ...