Memilih Menjadi Bapa


Tidak bisa dipungkiri, sosok seorang ayah adalah sosok yang sangat penting dalam sebuah keluarga.

Jika keluarga ibarat sebuah mobil, maka ayah itu adalah bensin nya.
Mobil tidak dapat bergerak tanpa bahan bakar alias bensin.
Jadi disini jelas bahwa sosok Ayah adalah sebagai penggerak keluarga untuk menuju ke arah yang ditentukan. Karena itu, seorang ayah harus memiliki kemapuan mendirect keluarganya.
Seorang ayah harus memiliki visi, kemana keluarga ini akan dibawa. Keberhasilan sebuah keluarga terlihat dari bagaimana seorang ayah memimpin keluarganya.

Jika keluarga adalah sebuah bangunan, maka ayah adalah satpam nya.
Satpam? Ya. Ayahlah penjaga keluarga. Dia harus membuat anggota keluarga merasa dilindungi.
Keluarga merasa aman, karena tahu ayah akan melakukan apa saja untuk menjaga mereka. Kalau perlu, si ayah akan bertempur mati-matian demi keluarganya.

Seorang ayah juga berperan penting dalam menumbuhkan kepecayaan diri pada anak-anaknya. Banyak penelitian yang menunjukkan, bahwa anak yang dekat dengan ayahnya cenderung lebih memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Mereka juga lebih berani mengambil resiko dan keputusan.

Sayangnya, banyak keluarga yang sudah kehilangan figur seorang ayah. Mereka seharusnya melihat sosok pejuang, penjaga, pemimpin.
Namun alih-alih menciptakan sosok itu bagi keluaga, banyak para ayah yang "mangkir" dari tugasnya.
Cukup banyak yang memilih untuk lepas tangan dari tanggung jawab menghidupi keluarganya -- dan menyerahkanya pada pasangan hidupnya.
Banyak pula ayah yang memilih meninggalkan keluarganya, karena merasa tidak berdaya menghadapi tantangan hidup.Memilih untuk menyelamatkan diri sendiri daripada keluarganya.
Cukup banyak pula ayah yang melakukan kekerasan verbal maupun fisik; bahkan seksual. Citra ayah sebagai pelindung tercoreng saat dengan sadar-- mereka tega melakukan kekerasan dalam bentuk apapun.
Banyak anak yang kehilangan sosok pelindung, sosok yang mampu diandalkan, sosok teladan, dan sosok pahlawan.
Banyak anak yang luka hati karena perbuatan dan perilaku seorang ayah. Banyak anak yang merasa tidak berguna-- karena tidak pernah mendapat support dan kata-kata membangun dari seorang ayah.

Dari surga, Tuhan melihat. Dan ikut merasakan kepedihan anak-anak ini.
Ikut menangis saat melihat begitu banyak hati anak yang hancur karena sakit yang harus mereka alami.
Ikut bersedih saat melihat anak-anak ini kembali melakukan pola yang sama pada anak-anak mereka kelak.
Dan Tuhan berkata "SUDAH CUKUP. INI TIDAK BISA DIBIARKAN. AKU AKAN TURUN KE DUNIA, UNTUK MEMULIHKAN CITRA SEORANG BAPA. YA, AKU SUDAH MEMUTUSKAN--AKU AKAN MENJADI BAPA BAGI SEMUA ORANG YANG MEMBUTUHKAN FIGUR SEORANG BAPA."
Dan jadilah demikian.


Bersyukur, Tuhan mengerti luka-luka seorang anak.
Bersyukur, Tuhan mengerti ada begitu banyak citra diri yang perlu dipulihkan karena kesalahan seorang ayah. Karena itu, Ia merelakan diri untuk turun ke bumi. Meninggalkan posisinya yang sebetulnya sudah sangat nyaman dan enak.
Ia rela merasakan ketidaknyamanan, demi menyelamatkan jiwa-jiwa yang begitu Ia sayangi.
Jiwa-jiwa ini harus dipulihkan dulu, agar kelak mereka dapat menjalankan tugas mereka sebagai orangtua dengan baik. Tugas sebagai pelindung.Tugas sebagai pemimpin. Tugas sebagai imam dalam keluarga. Tugas untuk meneruskan tongkat estafet iman.


Ah... sekarang aku tahu.
Tuhan datang sebagai Bapa untuk memulihkan aku. Memulihkan kamu juga.
Nikmatilah hubungan yang indah ini dengan Bapa Sorgawi kita.
Serahkan segala kepahitan dan kegeraman serta kekecewaan kita. Biarlah Dia beracara, dan berdaulat penuh atas hidup kita.
Dan kita akan menyadari... bahwa sungguh hidup kita tidak pernah sama lagi. Semua itu karena Bapa Sorgawi kita.




Semarang, 21 November 2017
*dibuat untuk semua anak yang merindukan hubungan yang dekat dengan bapanya, namun masih berusaha--belum --dan mungkin sudah tidak bisa lagi mewujudkan kerinduan itu.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Usia 30 : Awal Indah Sebuah Kehidupan

Karena Hidup Bukanlah Sebuah Kompetisi

Di Balik Arti Tanda Tanya